![]() |
| dok: internet |
BANYAK HARTA,
APAKAH BAHAGIA?
Manusia memang
tak selalu puas, punya ini minta itu, punya itu minta yang lain, selalu
beranggapan bahwa kekayaan adaah kebahagiaan, namun bebeda dengan apa yang
dikatakan oleh bapak KH. A Fuad Sahal dalam pengajianya setiap selesai maghrib
di pondok pesantren Attanwir Jawa Timur, bahwa harta tak dapat mengukur
kebahagiaan, “kekayaan itu tidak dapat mengukur kebahagiaan, banyak orang kaya
yang belum memperoleh kebahagiaan, misalnya sakit, banyak fikiran, maka banyak
banyaklah bersyukur” nasihat beliau (Sabtu, 7 November 2015).
Beliau
menuturkan bahwa kebahagiaan itu adalah cukupnya kebutuhan, sehat jasmani dan
rohani, makna kata cukup di sini tidak harus harta yang melimpah namun hanya
sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan, dari sini kita diajarkan untuk menerima
apa yang di anugrahkan Tuhan kepada kita serta menyukurinya. Masih banyak
mereka yang kurang puas, selalu merasa kurang dan kurang, maka timbulah fikiran
kotor untuk melakukan tindakan kriminal seperti mencuri, korupsi dll.
Pelaku korupsi tidak
menyadari bahwa apa yang mereka lakukan akan menyusahkan diri sendiri, misalnya
selalu terbayangi akan kesalahan dan ketakutan jika tertangkap. maka inilah
orang kaya yang tak bahagia. Ada lagi mereka yang bekerja sebagai buruh yang
gaji cukup untuk makan, namun dengan syukur mereka menerima apa adanya, makan
secukupnya, dan di hatinya terdapat rasa puas dengan hal tersebut, merekalah
orang bahagia.
Ajaran Islam memerintahkan umatnya untuk
senantiasa bersyukur atas segala ni’mat dan rizki yang Tuhan berikan, dan Tuhan
menjanjikan tambahnya ni’mat orang yang mau bersyukur, namun jika umat Islam
tidak bersyukur maka akan diberikan azab yang pedih sebagaimana disebutkan
dalam Al-Qur’an.
Jika berbicara tentang harta ada yang menghubungkanya
dengan kuliah, sekolah, banyak juga para pelajar atau mahasiswa yang salah niatan, mereka
kuliyah, sekolah denan harapan semoga mendapatkan pekerjaan yang layak, dapat
duit banyak, namun realitanya bannyak juga sarjana pengangguran, bapak KH Hamim
Sanadi menasehati santrinya di pondok pesantren Attanwir Bojonegoro supaya
sekolah, kuliah, ngaji dengan niat mencari ilmu, bukan untuk mencari pekerjaan,
“belajarlah dengan ikhas hanya mencari ridho Allah, atas ridhoNYA akan mudah
segala urusanmu”.
Ingat, bahwa
kuliah kita, sekolah kita tidak menjamin apa pekerjaan kita, seberapa banyak
uang kita, seberapa bahagia kehidupan kita. Kunci bahagia adalah bersyukur,
melihat orang yang lebih rendah dalam segi harta jika melihat orang yang lebih
rendah maka kita tidak mungkin meremehkan ni’mat Tuhan, namun jika kita melihat
yang lebih tinggi dari segi harta maka tidak aka nada rasa cukup dalam hati
kita. Kunci bahagia selanjutnya adalah memberi, dengan memberi kita dapat menularkan
kebahagaan kita kepada orang lain, dan dengan memberi sama halnya kita
mensyukuri ni’mat Tuhan, beda halnya dengan mereka yang tidak mau memberi,
mereka takut kebahagiaanya berkurang, padahal itu salah, jika kita member maka
Tuhan akan membalas ni’matNYA berlipat ganda. Bahagia tak perlu kaya, karena
saat kaya belum tent bahagia, bahagia tidak hanya milik orang kaya, karena
siapapun bisa bahagia, sejatinya bahagia bukanlah soal berapa uangnya, tapi
bagaimana hatinya.







0 komentar:
Posting Komentar