Rabu, 08 Maret 2017

BANYAK HARTA, APAKAH BAHAGIA?





dok: internet

BANYAK HARTA, APAKAH BAHAGIA?
Manusia memang tak selalu puas, punya ini minta itu, punya itu minta yang lain, selalu beranggapan bahwa kekayaan adaah kebahagiaan, namun bebeda dengan apa yang dikatakan oleh bapak KH. A Fuad Sahal dalam pengajianya setiap selesai maghrib di pondok pesantren Attanwir Jawa Timur, bahwa harta tak dapat mengukur kebahagiaan, “kekayaan itu tidak dapat mengukur kebahagiaan, banyak orang kaya yang belum memperoleh kebahagiaan, misalnya sakit, banyak fikiran, maka banyak banyaklah bersyukur” nasihat beliau (Sabtu, 7 November 2015).
Beliau menuturkan bahwa kebahagiaan itu adalah cukupnya kebutuhan, sehat jasmani dan rohani, makna kata cukup di sini tidak harus harta yang melimpah namun hanya sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan, dari sini kita diajarkan untuk menerima apa yang di anugrahkan Tuhan kepada kita serta menyukurinya. Masih banyak mereka yang kurang puas, selalu merasa kurang dan kurang, maka timbulah fikiran kotor untuk melakukan tindakan kriminal seperti mencuri, korupsi dll.
Pelaku korupsi tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan akan menyusahkan diri sendiri, misalnya selalu terbayangi akan kesalahan dan ketakutan jika tertangkap. maka inilah orang kaya yang tak bahagia. Ada lagi mereka yang bekerja sebagai buruh yang gaji cukup untuk makan, namun dengan syukur mereka menerima apa adanya, makan secukupnya, dan di hatinya terdapat rasa puas dengan hal tersebut, merekalah orang bahagia.
 Ajaran Islam memerintahkan umatnya untuk senantiasa bersyukur atas segala ni’mat dan rizki yang Tuhan berikan, dan Tuhan menjanjikan tambahnya ni’mat orang yang mau bersyukur, namun jika umat Islam tidak bersyukur maka akan diberikan azab yang pedih sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
 Jika berbicara tentang harta ada yang menghubungkanya dengan kuliah, sekolah, banyak juga para pelajar  atau mahasiswa yang salah niatan, mereka kuliyah, sekolah denan harapan semoga mendapatkan pekerjaan yang layak, dapat duit banyak, namun realitanya bannyak juga sarjana pengangguran, bapak KH Hamim Sanadi menasehati santrinya di pondok pesantren Attanwir Bojonegoro supaya sekolah, kuliah, ngaji dengan niat mencari ilmu, bukan untuk mencari pekerjaan, “belajarlah dengan ikhas hanya mencari ridho Allah, atas ridhoNYA akan mudah segala urusanmu”.
Ingat, bahwa kuliah kita, sekolah kita tidak menjamin apa pekerjaan kita, seberapa banyak uang kita, seberapa bahagia kehidupan kita. Kunci bahagia adalah bersyukur, melihat orang yang lebih rendah dalam segi harta jika melihat orang yang lebih rendah maka kita tidak mungkin meremehkan ni’mat Tuhan, namun jika kita melihat yang lebih tinggi dari segi harta maka tidak aka nada rasa cukup dalam hati kita. Kunci bahagia selanjutnya adalah memberi, dengan memberi kita dapat menularkan kebahagaan kita kepada orang lain, dan dengan memberi sama halnya kita mensyukuri ni’mat Tuhan, beda halnya dengan mereka yang tidak mau memberi, mereka takut kebahagiaanya berkurang, padahal itu salah, jika kita member maka Tuhan akan membalas ni’matNYA berlipat ganda. Bahagia tak perlu kaya, karena saat kaya belum tent bahagia, bahagia tidak hanya milik orang kaya, karena siapapun bisa bahagia, sejatinya bahagia bukanlah soal berapa uangnya, tapi bagaimana hatinya.

0 komentar:

Posting Komentar