 |
| dok: E:\gambar |
DINAMIKA PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA
oleh:
M FACHRUR ROZY
disusun guna memenuhi tugas FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
Islam di Indonesia telah berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan
zaman. Dari yang mulanya pendidikan Islam dilaksanakan di masjid, langgar dan
pondok pesantren yang mengutamakan pendidikan keagamaan dengan sumber dari
kitab-kitab salaf saja. Kemudian berkembang dengan berdirinya madrasah,
sekolah, hingga universitas, yang menggabungkan pendidikan Islam dan pendidikan
modern. Maka makalah ini akan membahas tentang Dinamika Pendidikan Islam
Indonesia, serta kendala-kendalanya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
keadaan pendidikan Islam pada zaman kemerdekaan?
2.
Apa isi
dari kurikulum pendidikan islam?
3.
Apa
faktor yang mempengaruhi pendidikan di Indonesia?
4.
Bagaimana
gerak pendidikan Islam?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
keadaan pendidikan Islam pada zaman kemerdekaan.
2.
Mengetahui
isi dari kurikulum pendidikan Islam.
3.
Mengetahui
faktor yang mempengaruhi pendidikan di Indonesia.
4.
Mengetahui
gerak pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendidikan Islam pada Zaman Kemerdekaan
Pasca penjajahan, pendidikan di Indonesia dibagi menjadi dua bagian,
yaitu:
1.
Pendidikan
Islam sebagai lembaga.
Pendidikan
Islam sebagai lembaga adalah tumbuh, dan berkembangnya lembaga-lembaga
pendidikan Islam seperti pesantran,
sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi. Sejak zaman kemerdekaan, keberadaan
pesantren selalalu mengalami peningkatan baik kualitasnya maupun kuantitasnya
karena mendapat tempat pada era kemerdekaan tersebut sehingga muncul
pesantren-pesantren baru di Indonesia.
Meskipun
pesantren di Indonesia dikelola oleh swasta, namun pemerintah tetap memberikan
dorongan dan dukunganya dalam bentuk bantun pembinaan dan pendanaan dibawah
naungan Direktorat Jendral Pendidikan Islam. Departemen Agama. Maka setidaknya
ada lima model pesantren yang berkembang.
Salah satu
model pesantren yang berkembang di Indonesia adalah adanya sekolah sebagai
lembaga pendidikan Islam. karena keterkaitan sekolah dengan dilaksanakanya pelajaran
agama. Secara garis besar, sekolah dibagi menjadi 2 yaitu sekolah negeri dan
sekolah swasta. Sekolah swasta juga dibagi menjadi dua lagi yaitu sekolah
muslim dan sekolah non muslim.
Dari model
sekolah swasta dan sekolah negeri, ada yang lebih spesifikasi ke pendidikan
Islam yaitu pendidikan model madrasah. Kedudukan madrasah setara dengan
sekolah, maka bisa disebut madrasah adalah sekolah berciri khas Islam setelah
diberlakukanya Keputusan Bersama Tiga Menteri Tahun 1975 (Menteri Agama,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri).
Tidak cukup
sampai di sini, pendidikan Islam Indonesia juga berkembang hingga ke perguruan
tinggi, terbukti setelah didirikanya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta pada tahun
1945, yang kemudian pindah ke Yogyakarta dan berubah nama menjadi Universitas
Islam Indonesia yang salah satu fakultasnya adalah Fakultas Agama.
Pada tahun 1950
Fakultas Agama diubah statusnya menjadi PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Isla
Negeri). Selanjutnya pada tahun 1960 PTAIN digabung dengan ADIA (Akademi Dinas
Ilmu Agam) di Jakarta menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri ), dan UIN
(Universitas Islam Negeri).
2.
Pendidikan
Islam Sebagai Mata Pelajaran
Sejak diulainya
pelajara agama di sekolah umum pada tahun 1946, pendidikan Islam sebagai mata
pelajaran telah dimasukan ke sekolah-sekolah. Pendidikan Islam selalu mengalami perubahan,
hingga yang terakhir ditegaskan dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional yang menyaakan “Setiap peserta didik dalam satuan
pendidikan berhak; (a) mendapat pendidikan agama sesuai agama yang dianutnya
dan diajarkan oleh pendidik yang seagama” (Pasal 12 ayat a).
B.
Isi Kurikulum Pendidikan Islam.
Pendidikan
Islam merupakan pendidikan yang berdasarkan padanilai-nilai ajaran Islam yang
terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-hadits. Al-Jamali menyebutkan bahwa Al-Qur,an
merupakan kitab terbesar yang menjadi sumber rujukan utamanya.
Kemudian
tentang prinsip penyusunan kurikulum yang mrupakan prinsip utama dalam seluruh
dimensi kehidupan manusia, baik dalam aspek hubungan vertical (حبل من الله),
maupun dalam aspek hubungan hrizonal (حبل من النا س). Prinsip demikianlah yang disebut prinsip
tauhid, yang bermaksud bahwa manusia hanya menyakini Allah sebagai satu-satunya
Tuhan yang didisembah.
Zayadi (2006)
menyebutkann bahwa, dalam penyusunanya, kurikulum pendidikan Islam harus
didasari atas asumsi tentang hakikat masyarakat, hakikat pribadi manusia, dan hakikat
pendidikan itu sendiri. Berbeda dengan Zayadi, As-Syabani menetapkan empat
dasar pokok tentang kurikulum pendidikan Islam yaitu dasar religius, dasar filsafat,
dasar psiklogi, dan dasar sosiologis.
1.
Dasar
Religius
Kurikulum
pendidikan harus didasarkan dengan dua hal yang merupakan nilai kebenaran yang
universal, abadi, dan futuristik, dua hal tersebut ialah Al-Qur’an dan Hadits.
Selain itu juga harus didukung dengan dalil ijtihad.
2.
Dasar
Filsafat
Dasar filsafat
sangat diperlukan dalam membentuk kurikulum, karena dapat memberikan terutama
kurikulum di bidang nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini dari
suatu kebenaran. Karena filsafat sistem nilai.
3.
Dasar
Psikologis
Untuk
mempertimbangkan tahapan psikis anak didik, yang berkaitan dengan perkembangan
jasmaniyah, intelektul, bahasa, emosi, dll perlu adanya dasar psiklogi yang
terbagi atas dua macam, yaitu psikologi belajar dan psikologi anak.
a.
Psikologi
Belajar
Anak dapat
dididik, dibelajarkan, dan diberi sejumlah materi, itulah hakikat anak sebenarnya. Selain itu, anak dapat menerima norma-norma ,
dapat mempelajari keterampilan, berpijak dari keterampilan anak tersebut. Maka perlu
perlu diperhatikan bagaimana kurikulum memberikan peluang belajar bagi anak
tersebutdan bagaimana proses belajar berlangsung. Sehingga anak dapat
memperoleh hasil maksimal.
b.
Psiklgii
Anak
Anak merupakan
faktor penentu dalam pembinaan kurikulum yang berlangsung selama poses belajar
mengajar, sehingga setiap anak memiliki kepentingan mendapatkan situasi belajar
untuk mengembangkan bakatnya.
4.
Dasar
Sosiologis
Implikasi dari
dasar sosiologi adalah berperan pentingnya kurikulum pendidikanterhada
penyampaian dan pengembangan kebudayaan, proses sosialisasi individu, dan
rekonstruksi masyarakat. Adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi
yang menyebabkan masyarakat selalu dalam proses perkembangan, sehingga
tuntutanya dari masa kemasa tidak selalu tida sama. Dari dasar ini, sering
ditemukan kesuitan dalam bentuk-bentuk kebudayaan apa yang patut disampaikan,
kearah ana proses sosialisasi, dan bentuk masyarakat bagaimana yang ingi
direkonstruksikan sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Selain megacu
pada empat dasar diatas, penyusunan kurikulum pendidikan Islam juga menjaga dan
mengembangkan prinsip-prinsip yang Islami. Omar Muhammad At-Taumy As-Syaibani
(1979:124) menyebutkan bahwa prinsip-prinsip yang harus menjadi acuan dalam
penyusunan kurikulum pendidikan adalah sebagai berikut:
1.
Berorientasi
pada Islam, termasuk ajaran dan nilainya, maka dengan demikian segaa hal yang terkait
dengan kurikulum harus berdasarkan pada agama Islam.
2.
Prinsip
menyeluruh pad tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum.
3.
Prinsip
keseimbangan yang relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum.
4.
Prinsip
interaksi antara kebutuhan peserta didik dan kebutuhn-kebutuhan masyarakat.
5.
Prinsip
pemeliharaan perbedaan individu di antara peserta didik, baik perbedaan dari
segi minat, bakat, kemampuan, kebutuhan, dan lain sebagainya.
6.
Prinsip
perkembangan dan perubahan sesuai dengan tuntutan yang ada, dengan tidak mengabaikan
nilai-nilai absolute.
7.
Prinsip
pertautan antara mata pelajaran, pengalama-pengalaman, dan aktivitas yang
terkandung dalam kurikulum, begitu pula dengan pertautan antara kandungan
kurikulum dengan kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat.
C.
Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Indonesia
Pada bagian ini akan dibahas tentang beberapa problem yang
melingkupi pendidikan Indonesia,
sekaligus
sebagai tantangan kita dimasa yang akan datang . maka dapat diidentifikasikan
problem-problem ini menjadi dua faktor.
Yaitu faktor internal, dan faktor eksternal.
1.
Faktor
Internal
Faktor
ini merupakan faktor yang terkait dengan kondisi pendidikan secara langsug.
Sejak merdeka hingga kini, bangsa Indonesia telah mengalami beberapa menteri
pendidikan dan selama itu pula Indonesia mengalami pergantian kebijaan
pendidikan. Pada bab ini akan dibahas tentang beberapa faktor internal yang
mempengaruhi pendidikan di Indonesia.
a)
Relasi
kekuasaan dan orientasi pendidikan
Menurut
Mastuhu (2003), terminology pendidikan memiliki ajah dan bentuk. Ada pendidikan
iformal, nonformal dan formal. Ada pula pendidikan Akademis dan professional,
negeri dan swasta dan sebagainya. Yang mana telah berkembang secara pesat tanpa
batas.
Berawal
dari orientasi pendidikan yang telah dicita-citakan, bisa dibilang tidak
menentu untuk waktu akhir ini. atau bahan kabur kehilangan orientasinya. Akibat
adanya tuntutan pola kehidupan pragmatis
dalam masyarakat Indonesia. Maka perlu diwaspadai bahwa globalisasi tidak hanya
memberikan dampak positifnya, tetapi dampak negatif juga ada.
Dalam
hal seperti ini, mengejar kelulusan merupakan keniscayaan, sehingga pelaku
pendidikan pun tidak takut melakukan kolusi, antara siswa dengan guru, maupun
siswa dengan sekolah.
b)
Masalah
Kurikulum
Kurikulum
merupakan aspek yang prinsipil, sebagai turunan dari tujuan, cita-cita, atau
orientasi pendidikan nasional. Namun pendidikan dianggap tidak konsisten dalam
menerapkan tujuan ideal pendidikan. N dengan kurikulum pun ikut berganti,
sesuai dengan harapan menteri yang baru.
c)
Pendekatan/Metode
Pembelajaran
Guru/dosen
seringkali bicara tentang pendidikan “dialogis” bahkan pendidikan yang
partisipatif melalui pembicaraan-pembicaraan diuar kelas. Sayangnya masih
sering kita jumpai di sekolah-sekolah adanya kultur guru yang masih melekat
sebagai sosok otoritatif tentang ilmu pengetahuan, guru berperan dominative
terhadap siswa/mahasiswa, sehingga pembelajaran tidak menyenangkan sebab asusmsi yang dibangun karena guru
memiliki pengalaman yang lebih banyak dibanding siswanya. Dalam sistem
pendidikan, masalah fundamental tersebut adalah dehumaniasi pendidikan.
Menurut
Muchtar Lubis, bangsa Indonesia(termasuk guru) memang terkenal dengan kultur
yang kurang baik. Misalnya tidak suka bekerja keras tidak jujur, tidak disilin,
mudah putus asa, malu mengakui kesalahan, senang jalan pintas, tidak rasional.Sebaiknya
peserta didik memiliki banyak pengalaman, penglaman ini dapat diperoleh dari
banyaknya peserta didik membaca buku, ikut seminat, diskusi dll. Sehingga peserta
didik memiliki modal untuk kritis membaca kenyataan kelas dan siap
mengkritisinya. .
d)
Profesionalitas
dan Kualitas SDM
Mungkin
kebanyakan orang, bahkan kita sendiri beranggapan, bahwa pendidikan di
Indpnesia akan lebih baik di masa mendatang. Namun untuk mewujudkan itu butuh
usaha yang tidak semudah membalik telapak tangan, namun butuh perjuangan dan
syarat-syarat yang harus dilengkapi. Salah satu syaratnya adalah professional
dalam pengelolaan pendidikan. Dan untuk mewujudkan profesionalitas dalam pengelolaan,
maka butuh SDM yang kualitas pendidikanya memadai, dan ditematkan pada level
yang sesuai.
Kemerosotan
mutu pendidikan Indonesia, seperti ditunjukan dalam berbagai survey
internasional, misalnya TIMSS dan Indek Pembangunan Manusia, tidak lepas dari
rendahnya mutu guru. Alasanya guru mempunyai peran amat penting dan strategis
dalam penyelenggaraan pendidikan.
Selain itu, persoaan profesionalitas juga menjadi sangat penting. Mohammad
Surya (Ketua Umum PB PGRI) mengakui, dari 1,6juta anggota PGRI seluruh
Indobesia, ada sekitar 50 peren belum memenuhi kualifikasi mengajar yang
memadai.
e)
Biaya
Pendidikan
Salah
satu faktor penting dalam pendidikan adalah biaya, ha ini menjadi persoalan
tersendiri tentang siapa yag bertanggungjawab. Jika kita menagih janji dan
komiten pemerintah, mungkin jawaban yang kita dapatkan tidaklah memuaskan.
Pemerintah mengalokasikan dana sebesar 20% dari APBN dan APBD di masing-masing
daerah, yang tertulis dalam UU Sisdik Nomor 20 tahun 2003, namun sayangya
hingga saat ini belum terpenuhi. Kevenderungan tentang berkurangnya peranan
pemerintah terhadap berbagai persoalan dengan sendirinya memperbesar porsi biaya
yang harus ditanggung oleh wali murid. Akibatnya bisa kita lihat pada tahun
2003/2004, sebanyak 702.006 siswa terpaksa putus sekolah di jenjang SD.
Demikian juga 271.948 siswa putus seolah di jenjang SMP.
2.
Faktor
Eksternal
Pada
bagian ini akan dibahas tentang faktor eksternal yang mempengaruhi pendidikan
di Indonesia. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a.
Fenomena
Globalisasi
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Holger Borner, dalam ssambutanya
di acara Konferensi Internasional tentang antisipasi kaum sosial democrat
terhadap masalah globalisasi pada tahun 1998 di Paris, ia mengatakan
“globalisasi sebenarnya telah berkembang jauh sebelum istilah tersebut menjadi
mode. Walaupun demikian, kualitas dan kecepatan yang berhubungan dengan
fenomena ekonomi dan sosial itu menemukan dimesi-dimensi baru”.
Dalam konteks pendidikan, informasi dan teknologi menjadi sumber
pengetahuan dan menunjang kompetensi yang dimiliki subyek pendidikan. Kita
disuguhi berbagai macam pilihan, tergantung bagaiman kita memilih informasi,
ide, gagasan, hingga temuan-temuan tersebut, akan tetapi hal ini juga menjadi
tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Tuntutan pendidikan berbasis
teknologi dan informasi sangat dimungkinkan, sementara untuk mengejar tantangan
tersebut dibutuhkan biaya yang besar dan melibatkan faktor ekonomi serta
pemerintah dalam pembiayaan pendidikan. Hal ini menyangkut pendidikan dan
budaya bangsa Indonesia sebagai bagian darisistem pendidikan lambat laun akan
tergeser, bahkan budaya kita akan mendapatkan posisi marginal.
b.
Fenomena
Multikultural
Fenomena
ini akan menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia dalam membangun bangsa yang
berbudaya dan menghargai keanekaragaman budaya yang ada. Ki Hajar Dewantara,
bapak pembangunan pendidikan nasional, berpendapat bahwa untuk membangun suatu
bangsa yang perlu dilakukan adalah mempertinggi derajat budayanya. Konsep ini
memilik makna yang mendalam. Dalam hal ini, kebudayaan yang dimaksud adalah: 1)
kebudayaan bersifat kebangsaan dan mewujudkan sifat kepribadian bangsa. 2)
tiap-tiap kebudayaan menunjukan menunjukan tingginya adat kemanusiaan padd
hidup masing-masing bangsa yang memilikinya. 3) tiap-tiap kebudayaan sebagai
buah kemenangan umat terhadap kekuatan alam dan zaman. Maka jika pendidikan
sebagai kekuatan bangsa dalam menggerakan peradaban manusia Indonesia untuk
survive dalam kancah global ini, maka ia tidak boleh menutup diri dari
perkembangan masyarakat yang ada.
D.
Gerak Penddikan Islam
Apapun
isi dari kurikulum pendidikan Islam, dan bagaimanapun metode pengajaranya,
pasti semua lembaga memiliki tujuan yang sama. Tujuan yang sama itu adalah
kematangan dari lulusan lembaga tersebut yang menjadi tolak ukur seberapa
sukses lembaga dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Segudang pengetahuan
dan keterampilan coba diberikan kepada peserta didik untuk menjadi lulusan yang
memilik kematangan intelektual serta berkepribadian. Namun perlu usaha besar
untuk mendapatkan target sedemikian. Pendidikan Islam tidak terjadi di ruang
hampa, melainkan berada dalam realita perubahan sosial yang sangat dahsyat
diengah masyarakat modern yang ditandai dengan renggangnya hubungan antar
manusia karena kesibukan masing-masing. Maka dari itu untuk mendapatkan target
awal perlu pembinaan yang ekstra dari pembina atau pendidik. Lalu guru seperti
apa yang dibutuhkan untuk mendampingi para siswa mencapai kematangan
intelektual dan berkepribadian?. Pater Drost mengusulkan agar syarat mennjadi
pengajar di SMU adalah seorang lulusan Magister, karena katanya seorang lulusan
magister pantas menjadi seorang professional, lulusan S1 katanya belum
professional. Namun tidak cukup itu, pengajar harus mampu bernteraksi dengan
peserta didik sebaik mungkin. Maka dalam hal ini dapat pengajar dapat
menggunakan pendekatan sosiologi. Sosiologi dalam pendidikan Islam memadukan
antara pendidikan empiris dan normatif.
1.
Pendidikan
Empiris.
Pendekatan
ini digunakan karena sosiologi pendidikan Islam memiliki fokus kajian pada
hal-hal yang tampak dalam realitas, sesuatu yang tampak dan yang nyata, apa
adanya. Maka sosiologi pendidikan Islam menggunakan pendekatan dari ilmu
sejarah, antropologi, dan arkeologis. Cara kerjanya adalah deskriptif analisis,
yakni mengamati, mencatat, mengkategorisasi, membandingkan.
2.
Pendekatan
Normatif
Pendekatan
ini digunakan karena sosiologi pendidikan Islam bukan hanya sosiologi yang didasarkan
pada nilai-nilaiyang berkembang di masyarakat, tetapi juga nilai-nilai yang
diturunkan dari ajaran yang terdapat dalam kitab suci atau sabda Nabi.
Tujuan
utama sosiologi pendidikan adalah untuk memecahkan untuk memecahkan berbagai
masalah pendidikan dengan menggunakan pendekatan sosiologi atau sebaliknya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh abu ahmadi sebagai berikut:
1.
Berusaha
memahami peran sosiologi dalam menjelaskan kegiatan sekolah serta pengaruhnya
terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah ditinjau dari segi intelektual.
2.
Untuk
memahami seberapa jauh guru dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk
mengembangkan kepribadian anak.
3.
Untuk
mengetahui pembinaan ideology pancasila dan kebudayaan nasional Indonesia di
lingkungan pendidikan dan pengajaran.
4.
Untuk
mengadakan integritas kurikulum dengan masyarakat sekitarnya agar pendidikan
mempunyai kegunaan praktis di dalam masyarakat, dan Negara seluruhnya.
5.
Untuk
menyelidiki faktor-faktor kekuatan masyarakat yang dapat mendorong pertumbuhan
dan dan perkembangan kepribadian anak.
6.
Memberi
sumbangan positif terhadap perkembangan ilmu pendidikan.
7.
Memberi
pegangan terhadap penggunaan prinsip-prinsip sosiologi untuk mengadakan
sosialisasi sikapdan kepribadian anak.
Beragamnya
masyarakat Islam di Indonesia, maka beragam pula pendidikan Islam yang ada di
Indonesia. Salah satu pemikiran Gus Dur yang berlandaskan bahwa Gus Dur faham
akan kondisi Masyarakat Indonesia. Hal ini bertujuan mengebangkan pendidikan
Isam di Indonesia dalam bingkai perbedan suku, ras, dan keyakinan yang cukup
beragam di Indonesia. Diakui atau tidak,
nilai-nilai luhur pemikiran gus dur banyak diikuti oleh generasi berikutnya dan
termotifasi dalam organisasi keagamaan yaitu NU.
Kemudian berkembang menjadi sebuah pendekatan lain di kalangan para pemikir
yang berusaha memahami hubungan antara nilai dan faktor lain dalam kehidupan
secara koheren.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendidikan Islam telah ada sejak zaman kemerdekaan, atau bahkan
sebelumnya, dan berkembang dari pesantren, sekolah, madrasah, hingga perguruan
tinggi. Pendidikan Islam selalu mengalami peningkatan kualitasnya, baik dari
segi model, maupun kurikulumnya.untuk kurikulumnya sendiri, pendidikan Islam
mengacu pada Nilai-nilai ajarana Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan
Al-Hadits, serta penyusunan kurikulumnya yang mengacu dalam seluruh dimensi
kehidupan manusia.
Zayadi
menambahkan, untuk penyusunanya kurikulum pendidikan Islam harus didasari atas
asumsi tentang hakikat masyarakat, hakikat pribadi manusia, dan hakikat
pendidikan itu sendiri. Namun berbeda dengan As-Syabani yang menetapkan empat
dasar pokok tentang kurikulum pendidikan Islam yaitu dasar religius, dasar
filsafat, dasar psiklogi, dan dasar sosiologis.Dalam perkembanganya, Pendidikan
Islam dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal yang meliputi:
masalah kurikulum, relasi kekuasaan dan orientasi pendidikan, pendekatan/metode
pembelajaran, profesionalitas dan kualitas SDM, dan biaya Pendidikan. Serta
faktor eksternal yang meliputi: fenomena globalisasi dan fenomena multicultural.
Gerak
pendidikan Islam di Masyarakatpun mendapat sambutan oleh masyarakat, didukung
keluarnya pemikiran-pemikiran Ilmuan yang mendukung adanya pendidikan Islam seperti
Gus Dur, Zayadi dan sebagainya.
B.
Kritik dan Saran
Demikian makalah
ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.
Semoga dapat membangun, khususnya bagi pemakalah sendiri, dan bagi pembaca pada
umumnya. Pemakalah hanyalah manusia biasa, yang tidak sempurna. Di dalam
makalah ini pasti terdapat kesalahan yang tidak kami sengaja. Maka dari itu,
pemakalah mohon disisihkan 1 dari 1000 pintu maaf untuk memafkan segala
kesalahan pemakalah. Bukan pujian yang pemakalah harapkan, namun kritik dan
saran pembaca yang kami tunggu, karena hanya itu yang dapat membuat pemakalah
maju.
Daftar Pustaka
Daulay Haidar
Putra. 2009. Dinamika Pendidikan Islam Asian Tenggara. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Faisol. 2011. Gus Dur dan
Pemikiran Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Gunawan Heri.
2014. Pendidikan Islam (Kajian Teoretis dan Pemikiran Tokoh). Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Nata Abuddin. 2014. Sosiologi pendidikan Islam. Jakarta: PT
Raja Grafindo.
Rembangy
musthofa. 2010. Pendidikan Transformatif (Pergulatan Kritis Merumuskan
Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi). Yogyakarta: Teras.